Kisah Nabi Idris Melihat Surga dan Neraka

Kisah Nabi Idris melihat surga dan neraka ini adalah kelanjutan dari kisah sebelumnya, yaitu Nabi idris merasakan bagaimana pengalaman dicabut nyawa oleh Malaikat Maut. Silakan disimak.

Kisah Nabi Idris Melihat Surga dan Neraka

Setiap hari Malaikat Maut dan Nabi Idris beribadah bersama. Suatu kali, sekali lagi Nabi Idris mengajukan permintaan. “Bisakah engkau membawa saya melihat surga dan neraka?”

“Wahai Nabi Allah, lagi-lagi permintaanmu aneh,” kata Malaikat Maut.

Setelah Malaikat Maut memohon izin kepada Allah, dibawanya Nabi Idris ke tempat yang ingin dilihatnya.

“Ya Nabi Allah, mengapa ingin melihat neraka? Bahkan para Malaikat pun takut melihatnya,” kata Malaikat Maut.

“Terus terang, saya takut sekali kepada Azab Allah itu. Tapi mudah-mudahan, iman saya menjadi tebal setelah melihatnya,” Nabi Idris menjelaskan alasannya.

Waktu mereka sampai ke dekat neraka, Nabi Idris langsung pingsan. Penjaga neraka adalah Malaikat yang sangat menakutkan. Ia menyeret dan menyiksa manusia-manusia yang durhaka kepada Allah semasa hidupnya. Nabi Idris tidak sanggup menyaksikan berbagai siksaan yang mengerikan itu. Api neraka berkobar dahsyat, bunyinya bergemuruh menakutkan, tak ada pemandangan yang lebih mengerikan dibanding tempat ini.

Dengan tubuh lemas Nabi Idris meninggalkan tempat yang mengerikan itu. Kemudian Malaikat Maut membawa Nabi Idris ke surga. “Assalamu’alaikum…” kata Malaikat Maut kepada Malaikat Ridwan, Malaikat penjaga pintu surga yang sangat tampan.

Wajah Malaikat Ridwan selalu berseri-seri di hiasi senyum ramah. Siapapun akan senang memandangnya. Sikapnya amat sopan, dengan lemah lembut ia mempersilahkan para penghuni surga untuk memasuki tempat yang mulia itu.

Waktu melihat isi surga, Nabi Idris kembali nyaris pingsan karena terpesona. Semua yang ada di dalamnya begitu indah dan menakjubkan. Nabi Idris terpukau tanpa bisa berkata-kata melihat pemandangan sangat indah di depannya. “Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah…” ucap Nabi Idris beulang-ulang.

Nabi Idris melihat sungai-sungai yang airnya bening seperti kaca. Di pinggir sungai terdapat pohon-pohon yang batangnya terbuat dari emas dan perak. Ada juga istana-istana pualam bagi penghuni surga. Pohon buah-buahan ada disetiap penjuru. Buahnya segar, ranum dan harum.

Waktu berkeliling di sana, Nabi Idris diiringi pelayan surga. Mereka adalah para bidadari yang cantik jelita dan anak-anak muda yang amat tampan wajahnya. Mereka bertingkah laku dan berbicara dengan sopan.

Mendadak Nabi Idris ingin minum air sungai surga. “Bolehkah saya meminumnya? Airnya kelihatan sejuk dan segar sekali.”

“Silahkan minum, inilah minuman untuk penghuni surga.” Jawab Malaikat Maut. Pelayan surga datang membawakan gelas minuman berupa piala yang terbuat dari emas dan perak. Nabi Idris pun minum air itu dengan nikmat. Dia amat bersyukur bisa menikmati air minum yang begitu segar dan luar biasa enak. Tak pernah terbayangkan olehnya ada minuman selezat itu. “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah,” Nabi Idris mengucap syukur berulang-ulang.

Setelah puas melihat surga, tibalah waktunya pergi bagi Nabi Idris untuk kembali ke bumi. Tapi ia tidak mau kembali ke bumi. Hatinya sudah terpikat keindahan dan kenikmatan surga Allah.

“Saya tidak mau keluar dari surga ini, saya ingin beribadah kepada Allah sampai hari kiamat nanti,” kata Nabi Idris.

“Tuan boleh tinggal di sini setelah kiamat nanti, setelah semua amal ibadah di hisab oleh Allah, baru tuan bisa menghuni surga bersama para Nabi dan orang yang beriman lainnya,” kata Malaikat Maut.

“Tapi Allah itu Maha Pengasih, terutama kepada Nabi-Nya. Akhirnya Allah mengkaruniakan sebuah tempat yang mulia di langit, dan Nabi Idris menjadi satu-satunya Nabi yang menghuni surga tanpa mengalami kematian. Waktu diangkat ke tempat itu, Nabi Isris berusia 82 tahun.

Firman Allah:

“Dan ceritakanlah Idris di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah orang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi, dan kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Al-Anbiya:85-86).

***
Pada saat Nabi Muhammad sedang melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj ke langit, beliau bertemu Nabi Idris. “Siapa orang ini? Tanya Nabi Muhammad kepada Jibril yang mendampinginya waktu itu.

“Inilah Idris,” jawab Jibril. Nabi Muhammad mendapat penjelasan Allah tentang Idris dalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiya ayat 85 dan 86, serta Surat Maryam ayat 56 dan 57.

Sumber Bacaan: Alkisah Nomor 01 / 3-16 Januari 2005

Mengapa Kita Harus Shalat? (Mario Teguh)

Pagi ini Pak Mario Teguh menelurkan kalimat inspirasinya bagi facebookers. Mengapa kita harus shalat? atau dalam bahasa Pak Mario, Mengapa kita harus sembahyang?

Pak Mario, mengapa saya harus sembahyang?

Hmm ,,, adikku yang baik hatinya,

Tuhan itu Maha Penyayang, itu sebabnya yang baik bagi kita akan diharuskan-Nya.
Meskipun Tuhan memberikan kita kebebasan untuk memilih, sesungguhnya Tuhan lebih berpihak kepada pilihan baik kita.

Itu sebabnya bagi kebaikan, disediakan hadiah kedamaian, kenikmatan, dan keindahan.
Itu sebabnya bagi keburukan, disediakan kegelisahan, perendahan derajat, ketakutan, dan penderitaan yang berkelanjutan.
Itu semua, diniatkan agar kita lebih memilih kebaikan daripada keburukan.

Dan sembahyangmu itu, adalah untuk kebaikanmu.
Lebih baik memaksa dirimu sembahyang, daripada mengeluh karena kekasaran orang lain, karena pengkhianatan, dan karena buruknya rezeki.

Jika engkau bisa melihat perlindungan yang dilingkupkan Tuhan kepada jiwa yang bersembahyang, engkau akan selalu bersembahyang - dalam kepatuhan jiwa dan kepatuhan raga.

Marilah kita belajar untuk patuh secara jiwa dan raga.

Tuhan Yang Maha Pelapang Hidup, perjelaslah berkah dari sembahyang bagi jiwa yang sedang ragu.
Aamiin

Kisah Nabi Idris dan Malaikat Maut

Kisah Nabi Idris dan Malaikat Maut ini adalah salah satu kisah teladan bagi umat Islam. Nabi Idris meminta pengalaman dicabut nyawa saat kematian. Malaikat Maut pun mengabulkan permintaan Nabi Idris.

Kisah Nabi Idris dan Malaikat Maut

Malaikat Maut sangat mengagumi kepandaian Nabi Idris. Malaikat Maut ingin lebih mengenal Nabi Idris. Atas izin Allah, diam-diam Malaikat Maut menyamar sebagai manusia dan bertamu ke rumah Nabi Idris.

“Assalamu’alaikum,” Malaikat Malaikat Maut memberi salam sambil mengetuk pintu.

“Wa’alaikum salam,” jawab Nabi Idris, “Silahkan masuk, siapakah itu, dan ada perlu apa datang kemari?”

Malaikat Maut menyampaikan maksudnya untuk berkenalan dengan Nabi Idris sebagai utusan Allah. Akhirnya Nabi Idris mengajak Malaikat Maut menginap di rumahnya.

Di rumah Nabi Idris, keduanya asyik beribadah, mereka tidak banyak bicara melainkan terus beribadah. Ketika tiba waktu makan, Nabi Idris mempersilahkan tamunya makan. Tamunya menolak. “Silahkan tuan makan sendiri, saya ingin melanjutkan ibadah saya kepada Allah,” jawabnya.

Setelah makan nabi Idris melanjutkan ibadah bersama tamunya sampai tiba waktu tidur. “Silahkan tuan tidur disini,” Nabi Idris menunjukkan tempat tidur tamu.

“Silahkan tuan tidur dulu, saya masih ingin melanjutkan ibadah saya,” jawab sang tamu, tanpa menunjukkan rasa lelah.

Keesokan harinya, kejadian yang sama berulang. Nabi Idris sangat heran,, siapakah sebenarnya tamu ini, kenapa tamu aneh ini tidak mau makan dan tidur? Dengan hati-hati Nabi Idris menanyakan hal itu kepada tamunya.

“Saya adalah Malaikat Maut” kata sang tamu. Nabi Idris sangat kaget. “Jadi, engkau datang untuk mencabut nyawa saya?” tanya Nabi Idris.

Malaikat Maut menggeleng, lalu menjelaskan keinginannya untuk mengenal Nabi Idris lebih jauh. Barulah Nabi Idris sadar, memang begitulah kehidupan malaikat. Dan para Malaikat memang suka mendekati orang-orang yang beriman. Bila orang beriman sedang shalat, berdoa, atau melakukan amal saleh, banyak malaikat yang mengerumuninya.

“Sebenarnya saya ingin merasakan bagaimana rasanya jika nyawa seseorang sedang di cabut,” ujar Nabi Idris tiba-tiba.

“Permintaan tuan aneh sekali,” kata Malaikat Maut. Selama ini manusia justru takut nyawanya akan dicabut.

Idris menjelaskan kepada Malaikat Maut bahwa pengalamannya akan menjadi bekal dalam berdakwah. Dengan izin Allah, Malaikat Malaikat Maut melakukan apa yang diminta Nabi Idris. Dicabutnya nyawa Nabi Idris, lalu segera dikembalikan lagi.

“Saya tidak merasakan apa-apa,” kata Idris setelah bangun dari kematiannya

“Karena saya melakukannya dengan lembut. Begitulah yang selalu saya lakukan terhadap orang-orang beriman,” kata Malaikat Maut.

“Bagaimana dengan orang yang tidak beriman? Tanya Nabi Idris penasaran.

“Oh, mereka akan merasakan luar biasa kesakitan waktu nyawa mereka dicabut,” kata Malaikat Maut. Nabi Idris ingin mendengarnya. Terlebih waktu Malaikat Maut mengatakan, rasa sakit itu akan dirasakan si mati sampai hari kiamat. Nabi Idris tidak mampu membayangkan betapa sakitnya. Sakit sehari saja rasanya sudah tidak tahan, apalagi kalau harus menanggungnya hingga ratusan tahun sambil menunggu waktu kiamat tiba. Sebaliknya orang yang beriman akan merasakan kebahagiaan. Setelah mati, mereka akan menikmati hasil setiap amal saleh mereka di dunia,” tutur Malaikat Maut menjelaskan.

Kakek Berusia 10 Tahun

Kisah kakek berusia 10 Tahun ini telah banyak ditulis di blog dan di-forward ke email dan milis sebagai kisah inspiratif, Kali ini saya juga ikut me-reblog kisah kakek penuh inspirasi ini, Semoga bermanfaat blogger!

Kakek Berusia 10 Tahun

Dikisahkan, di bawah sebuah pohon yang rindang, tampak sekelompok anak-anak sedang menyimak pelajaran yang diberikan oleh seorang guru. Di antara anak-anak itu, terlihat seorang kakek duduk di sana.

Seusai pelajaran, seorang pemuda dengan penasaran menghampiri dan bertanya kepada si kakek, “Kek, apakah kakek seorang guru?”

“Bukan…, aku bukan seorang guru. Aku juga sedang belajar, sama dengan anak-anak itu.”

“Lho, memangnya, berapa umur kakek?”

“Umur kakek tahun ini, tepat 10 tahun.”

“Ah…, kakek bercanda! Perkiraanku, umur kakek sudah 70 tahunan…”

“Ha ha ha, tebakanmu benar! Bila dihitung dari saat kakek lahir hingga kini, umur kakek memang 70 tahun. Tetapi, 60 tahun yang telah dilewati jangan dihitung. Yang benar-benar dapat dihitung adalah kehidupanku sepuluh tahun terakhir ini.”

Si pemuda menunjukkan wajah kebingungan. Ia pun bertanya, “Apa artinya, Kek?”

Sambil menghela napas panjang si kakek menjawab, “Sejak kecil sampai usia 20 tahun, yang seharusnya waktu terbaik untuk belajar, tetapi kakek sibuk bermain dan bersantai. Karena semua kebutuhan hidup telah disediakan berlimpah oleh orangtua kakek. Kemudian 20 tahun berikutnya, waktu yang seharusnya untuk mengejar karir dan berjuang, kakek malah menggunakannya untuk berfoya-foya-menghamburkan harta yang diperoleh dengan susah payah oleh orangtua kakek. Dan 20 tahun ketiga, waktu yang seharusnya untuk mengumpulkan tabungan sebagai persiapan pensiun di masa tuaku, malahan kakek gunakan untuk pergi tamasya, menghabiskan sisa harta yang masih ada. Semua hanya untuk mengejar kesenangan sesaat. Coba, kamu pikir, bukankah 60 tahun telah kulewati itu sia-sia? Tidak ada satu pun yang kupelajari.”

“Lalu bagaimana dengan sepuluh tahun terakhir hidup kakek?”

Dengan mata berkaca-kaca si kakek bertutur, “Sepuluh tahun terakhir aku sadar, 60 tahun hidup dilalui tanpa makna, tanpa tujuan, dan tanpa cita-cita… Sungguh hidup yang sia-sia, tidak berguna. Saat sadar, kakek sudah hidup sebatang kara dan tanpa harta.Untuk hidup pun harus ditunjang dari belas kasihan orang lain. Anak muda, jangan meniru kehidupan seperti yang telah kakek jalani. Karena, waktu adalah modal utama paling berharga yang dimiliki oleh setiap manusia. Pergunakanlah baik-baik untuk belajar,berusaha, dan berkarir. Efektivitaskan waktumu pada tujuan yang jelas, dan berjuang meraih keberhasilan. Maka kelak di hari tuamu, kamu akan menjalani kehidupan ini dengan bangga dan bahagia.”

Teman-teman yang luar biasa,

Saat ini kita hidup di Abad ke-21, di mana zaman mempunyai ciri khas yakni perubahan yang cepat, perkembangan teknologi yang semakin pesat, persaingan di semua lini usaha yang begitu ketat. Dan kita dituntut menjadi manusia pembelajar yang bisa menghargai waktu dan mengelolanya secara cerdas, cermat, dan cekatan.

Jika kita mampu mengelola waktu dengan begitu smart, bisa dipastikan kehidupan kita akan punya warna, punya ciri, dan berkualitas. Manfaatkan waktu yang begitu berharga! Seperti pepatah berbunyi, time is money (waktu adalah uang). Tetapi lebih dari itu, time is life (waktu adalah nyawa)…!

Salam Super!

Bayi Meninggal Karena Ibu asyik Main BB (Blackberry)

Kisah nyata ini membuat miris hati kita semua. Seorang ibu lalai menjaga anaknya karena asyik dengan blackberry-nya. Salah satu dampak buruk Blackberry pun bertambah, yaitu menjadi alat ibu-ibu makin banyak bergosip dan lupa diri.

Bayi Wafat Ibu asyik Main Blackberry

Sungguh aneh jagad ini, karena keranjingan BlackBerry dengan BBM-an, seorang ibu menelantarkan anaknya yang masih berusia satu setengah bulan meninggal lemas, akibat kehabisan nafas saat menangis ditempat tidur, karena gelisah anak ini tertimpa bantal pada mukanya sehingga sulit bernafas hingga lemas dan menemui ajalnya.

Kejadian ini baru saja terjadi sekitar jam 11.45 siang ini, saat sang suami pulang dari tempat kerjanya untuk melaksanakan sholat jum’at dan meyiapkan segala sesuatunya dari rumah, setelah memasuki kamar didapati bayinya sudah lemas tak ada suaranya seperti biasa, sementara sang ibu tengah asyik ber-BBM-an ria dengan BB-nya di ruang tamu.

Seketika itu juga sang bapak melarikan bayinya itu dan membawa ke klinik kami untuk memeriksakan keadaan bayinya, namun sekali lagi sebuah kejadian menyedihkan telah terjadi, bayi itu telah diperiksa oleh dokter dan didapati sudah tidak bernyawa lagi walau masih terasa hangat sepertinya nyawanya lepas baru beberapa menit yang lalu, dokter yakin dengan kematian bayi ini karena tidak ditemukan suara jantung, suara paru dan dipastikan pupil (iris) dari kedua matanya yang sudah melebar (midriasis) dan tidak adanya refleks cahaya dari pupil mata itu, ini adalah salah satu tanda pasti kematian karena relaksnya otot siliaris pupil dalam bola mata.

Saat datang ke klinik kami, bapak ini membopong bayinya didampingi sang ibu yang masih menggenggam BlackBerry-nya itu, setelah dokter menjelaskan semua keadaan yang ada, spontan sang bapak merampas BB istrinya itu dan melemparkan ke tembok klinik hingga hancur berantakan, pemandangan emosi yang tak terkendali dari seorang bapak yang telah kehilangan seorang anak pertamanya, akibat kelalaian seorang istri yang lupa akan kewajibannya mengurus dan menjaga bayinya akibat asyik berBBM-an dengan BlackBerrynya itu.

Inilah sebuah pelajaran lagi yang kita bisa petik, dari sebuah kejadian nyata akibat kemajuan tekhnologi dibidang gadget yang membuat seorang ibu lalai pada bayinya yang menangis, tapi tetap asyik dengan BlackBerry-nya itu.

Sungguh miris sekali melihatnya…

Ibu…janganlah kau lupa akan tugas muliamu untuk memelihara, merawat, membesarkan, menjaga dan mendidik anak-anakmu itu… Astaghfirullahal’adzim…

Salam Perihatin, Titi.
Berita ini adalah tulisan salah satu perawat yang merupakan blogger di kompasiana. Berikut adalah sanggahan beliau mengenai tuduhan pihak pesimistis yang mengganggap berita ini hoax.

Berita tewasnya seorang bayi akibat tertimpa bantal saat sang ibu asyik menggunakan Blackberry Messenger (BBM) menimbulkan kehebohan di dunia maya. Tidak sedikit pengguna internet yang meragukan keaslian cerita yang disampaikan Titi, seorang Kompasianer yang sehari-hari bekerja sebagai perawat di sebuah klinik di Baturaden, Banyumas.

Lewat akunnya di Kompasiana, Titi membantah anggapan banyak orang yang menuduhnya menyebar berita bohong atau hoax.

"Sesuai petunjuk dan arahan dari pimpinan di klinik tempat saya bekerja, saya diperintahkan membuat tulisan lagi untuk mengklarifikasi dan menjelaskan tujuan awal dari penulisan itu. Sungguh tidak ada tujuan untuk membuat HOAX," tulis Titi di Kompasiana.

Dia juga tidak bermaksud membuka sebuah musibah yang dialami pasiennya, tetapi murni hanya bertujuan untuk mengingatkan orang lain terhadap dampak negatif dari penggunaan gadget. Hal ini juga disampaikan agar setiap orang lebih berhati-hati dan lebih bijak dalam menggunakannya.

"Jadi, sekali lagi, tulisan itu murni untuk mengimbau pembaca dan masyarakat luas agar bisa memetik sebuah pelajaran yang sangat berarti sehingga ke depannya hal ini tidak perlu terjadi lagi dan kalau bisa jangan terulang lagi," lanjutnya.

Hingga saat ini, tulisan berjudul "Satu lagi Kejadian Menyedihkan, Seorang Ibu Asyik BBM-an, Bayi Mati Akibat Tertimpa Bantal" yang ditayangkan di Kompasiana sejak Jumat (30/9/2011) sudah dibaca lebih dari 220.000 orang. Cerita ini menyebar lewat layanan BBM, dan hampir tiga ribu orang menyebarkannya lewat Facebook dan Twitter.

Saat dihubungi lewat telepon dan SMS, Titi mengaku tidak bisa memberikan keterangan apa pun karena terikat oleh kode etik profesinya sebagai perawat. Semua keterangan terkait hal itu sudah dipaparkan lewat blognya di Kompasiana.

Sedikit Tips tentang Kesan Pertama

Kesan Pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda. Begitulah kata iklan yang terngiang-ngiang di benak kita mengenai kesan pertama. Bagaimana membangung kesan pertama yang baik? Tentu tidak hanya dengan cara memakai produk iklan tersebut. Tips membangun kesan pertama ini ditulis oleh William Lautama - YOT CA Institut Teknologi Bandung.


Saat interview atau pertama kali berinteraksi dengan orang yang baru dikenal, pastinya kita ingin memberikan kesan pertama yang spesial supaya diingat oleh teman bicara. Ada pepatah yang mengatakan first impression determine your image, hal ini didukung oleh penelitian yang menunjukkan bahwa 90% persepsi orang lain terhadap individu ditentukan dari 4 menit interaksi pertama. Jadi teman-teman bisa bayangkan kalau momen first impression sangat penting menentukan seperti apa hubungan yang akan terbentuk nanti.

Semua orang selalu ingin meninggalkan kesan terbaik tentang dirinya. Namun, tanpa sadar seringkali kesan yang kita berikan tidak tepat misalnya memuji teman bicara berlebihan atau terlalu sombong mempromosikan diri. Saya yakin orang yang tidak belajar ilmu psikologi pun bisa merasakan dan menebak seperti apa karakter teman bicaranya. Apa yang kamu rasakan jika dalam sebuah pertemuan bertemu dengan seseorang yang hanya terus menerus berbicara tentang dirinya, prestasinya, dan segala hal tentang dia. Siapapun yang mendengarkan pasti akan bosan dan ingin pergi jauh-jauh.

Dalam tulisan ini, saya ingin share beberapa tips untuk membangun 1st impression yang terbaik bahkan sebelum kamu berbicara apa-apa, orang lain sudah mendapat kesan bahwa kamu adalah SEORANG PEMENANG. Tips pertama adalah cara kamu berpenampilan dan bergerak, dimulai dari bagaimana cara bersenyum Jadi ketika kamu bertemu seseorang, jangan langsung senyum namun lihat ke wajahnya pause sebentar 1 detik saja lalu senyum, smile a big warm all over your face sampai mata kamu juga ikut tersenyum^_^ Dengan delay sebentar, itu menunjukkan senyuman kamu tulus dan senyuman kamu ditujukkan hanya untuk dia. Selain menghormati dia, kamu juga memberikan kesan bahwa senyum kamu tidak murahan, hehehe..

Tips berikutnya adalah setelah berkenalan pastinya ada perbincangan yang terjadi, nah disini tunjukkan kesan bahwa kamu menghormati dia dengan mengarahkan 100% badan kamu menghadap teman bicara. Hal ini memberikan kesan bahwa kamu memperhatikan dan tertarik ngobrol dengan dia. Tips ketiga adalah mencari topik yang menjadi passion kalian berdua dan kenali dia secara personal dengan tulus. Ketiga hal ini sangat powerful ketika berkenalan dengan teman baru, terutama tips ketiga karena saya pribadi senang berteman jadi saya tidak asal kenalan hanya dengan mengetahui nama dan muka teman bicara, saya tulus ingin mengenal karakternya. So let’s Meet some people, introduce yourself, and make your BEST 1st impression!

So begitulah teman blogger, kesan pertama haruslah menggoda, selanjutnya terserah Anda.

Tips Menjadi Teman Ngobrol yang Asyik

Ngobrol bersama teman adalah kegiatan bersosialisasi yang menyenangkan. Namun tidak sedikit orang justru menjadi teman bicara yang menyebalkan. Ada yang suka membanggakan diri sendiri, bahkan ada yang mendominasi pembicaraan. Mari kita simak seni menjadi teman ngobrol yang asyik.

Tips Menjadi Teman Ngobrol yang Asyik

Menjadi teman berbincang yang menyenangkan bisa dibilang susah-susah gampang. Apalagi dengan orang yang baru dikenal. Itu bukti bahwa tidak semua orang betul-betul menguasainya, walau sebenarnya hampir setiap waktu tak lepas dari aktivitas komunikasi dengan orang lain.

Lalu, bagaimana menjadi teman berbincang yang baik dan menyenangkan? Berikut tips dari The Art Of Conversation yang diberitakan oleh laman Yahoo! Shine:

1. Hindari detail pembicaraan yang tidak penting
Terkadang dalam sebuah perbincangan seru, Anda akan merasa terpojok terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mendetail mengenai diri Anda atau sebuah kasus. Jika Anda menganggap hal tersebut tidak penting untuk dibicarakan, Anda tidak harus menjelaskannya. Namun, jangan pernah mengalihkan perbincangan karena akan mengubah suasana komunikasi yang telah tercipta.

2. Jangan menanyakan pertanyaan lain jika pertanyaan sebelumnya belum selesai dijawab
Jika Anda menanyakan pertanyaan mengenai salah satu sisi kehidupan dari lawan bicara Anda, jangan langsung loncat pada topik pembicaran lain mengenai diri Anda sebelum hal tersebut terjawab. Selain akan membuat Anda terlihat egois, lawan bicara Anda pun akan malas melanjutkan perbincangan dengan Anda.

3. Jangan memotong seseorang yang sedang berbicara
Ceritakan hal yang ingin Anda perbincangkan dengan jelas dan tidak bertele-tele, serta jangan pernah memotong lawan bicara. Dengan begitu Anda memberikan kesempatan pada lawan bicara Anda untuk mengutarakan pendapatnya. Perbincangan seru dua arah pun akan mudah terbentuk.

4. Jangan bertentangan, khususnya jika hal tersebut tidak penting
Perbincangan tidak akan pernah luput dari hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut seseorang. Namun, jangan pernah ngotot jika hal tersebut tidaklah penting untuk dibicarakan.

5. Jangan menguasai perbincangan
Tanyakan pertanyaan untuk mengetahui kesamaan di antara kalian. Jangan pernah egois dalam sebuah perbincangan. Perbincangan dua arah antara kalian akan membuat perbincangan semakin seru, dan Anda pun akan menemukan banyak kesamaan dengan lawan berbicara Anda.

6. Jangan selalu menjadi pahlawan dari setiap cerita
Bangunlah perbincangan yang seimbang. Jangan selalu bercerita tentang Anda, kehidupan Anda, teman Anda, dan apapun mengenai Anda.

7. Pilihlah topik sesuai keinginan bersama
Bacalah topik yang menarik untuk diperbincangkan dengan lawan bicara Anda. Jangan berbicara tentang politik jika Anda mengetahui lawan bicara Anda bukanlah orang politik.

8. Jadilah pendengar yang baik
Dengan menjadi pendengar yang baik, Anda dapat membangun topik-topik perbincangan yang seru dengan lawan bicara Anda.

9. Perbincangan harus seharmoni dengan lingkungan
Perhatikan keadaan sekitar, terkadang kondisi di sekitar kalian bisa menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan.

10. Jangan terlalu membesar-besarkan cerita
Ceritakan sebuah cerita sesuai fakta yang ada. Gunakan nada bicara dan ekspresi yang sesuai unuk menggambarkan cerita tersebut.

Salah tingkah akibat grogi saat bicara dengan orang lain tentu menimbulkan rasa serba salah bagi kita, di satu sisi bila wajah dan tatapan mata kita tidak ditujukan ke lawan bicara ini tentu menimbulkan kesan tidak sopan dan tidak memperhatikan, tapi bila kita terus melakukan kontak mata secara langsung rasa grogi dan salah tingkah tetap akan muncul.

Untuk menghindari grogi dan salah tingkah bahkan sampai menundukkan kepala akibat grogi ketika habis saling bertatapan mata. Maka ada kiat yang sangat jitu yang patut dicoba, yaitu ketika berbicara dengan lawan bicara kita, arahkanlah tatapan mata Anda di wilayahtriangle face yang meliputi dahi, gelembung pipi dekat hidung dan wilayah bibir kiri-kanan.

Pengalaman Penerapan
Tentu saja hasil positif dari keberhasilan menggunakan tips ini akan sangat membantu kita dalam melakukan pembicaraan yang berhasil, terutama ketika sedang menerima curhat dari teman, pemberian pengarahan/ penjelasan kepada bawahan/atasan, negosiasi bisnis, dll yang memerlukan tingkat konsentrasi tinggi untuk menghasilkan sesuatu yang penting.

Cobalah terlebih dahulu kepada teman dekat Anda. Minta pendapatnya, apa benar dia merasa Anda sendang melihat matanya?, yang padahal saat itu misalnya kita sedang melihat ke arah keningnya, begitu seterusnya dicoba-coba dengan memindahkan arah tatapan mata kita ke hidung, dan bibir teman Anda tersebut. Tidak percaya? Silahkan mencoba… semoga berhasil…!

Originally Posted by ozmotions
tambahan gan ,,,

1. jika usia agan lebih tua dari lawan bicara, jangan merasa lebih tua atw lebih berpengalaman, jangan sampai lawan bicara agan merasa seolah didikte oleh pembicaraan agan. Seperti terkesan menggurui.

2. jika agan lebih muda dari lawan bicara agan, jangan merasa bahwa pola pemikiran agan sekarang lebih modern dari lawan bicara agan yg notabene lebih tua (kolot). jangan sekalipun menganggap lawan bicara agan kuper/ketinggalan jaman dsb

3. hargai setiap kata yang keluar dari mulut lawan agan. Ilmu atw pengalaman itu tidak harus selalu dinilai berdasarkan usia atw siapa yang berkata ; bahkan sebuah buku yang tidak pernah bisa berbicara, baik itu buku keluaran terbaru/usang, selalu terdapat ilmu didalamnya

4. Tuhan menciptakan manusia dengan 2 telinga, 1 mulut dalam arti Tuhan pun berkehendak kita lebih banyak mendengarkan ketimbang banyak mulut atw berbicara ,,
Quote:
Originally Posted by electricite
nice share gan

tambahan, untuk jadi lawan bicara yg baik, pikirin juga kondisi emosional lawan bicaranya, jadi kita tau pemakaian kata-kata yg ga akan memperburuk suasana yg udah dibangun
Quote:
Originally Posted by Blacknote
jangan terlalu lama membahas suatu topik gan, itu membuat perbincangan jadi kurang dinamis dan membosankan
Quote:
Originally Posted by cimanggu
skedar sharing aja gan..
klo bisa cari topik pembicaraan=cari kesamaan antara dua orang yg bicara..
misal: klo lawan bicara kita orang jawa, kita coba bahas yg berhubungan dgn itu/yg jd kesenengan dia..

Spoiler for FAQ:

Quote:
Originally Posted by primula
Quote:
Originally Posted by FastSellingBoy
nah yang sering jadi masalah itu seringkali saya dihadapkan dengan perbincangan satu arah. saya selalu terdesak dan terdesak, ini saya yang kurang bisa bangun pembicaraan atau bagaimana yah?
coba di selingi dengan pertanyaan kepada lawan bicara. untuk mencairkan suasana, g ada salahnya diselipi ma humor kalii gan..
Quote:
Originally Posted by SoundBuns
saya sering menerapkan melihat mata pembicara (teman ngobrol), teman saya pernah protes (teman akrab lho!). "kamu jangan lihat saya seperti itu ah, saya jadi malu n' gak nyaman" gimana tuh gan? mohon pencerahan.
coba tatapan mata diarahkan ke daerah kening, alis atau daerah wajah secara bergantian. intinya pandangan mata tidak monoton ke salah satu sisi wajahnya kalii.. semoga sedikit bs membantu.. thx..
Quote:
Originally Posted by Thronze
lha kalo lawan bicara kita tidak menyenangkan apakah trik itu bisa di lakukan?
berusaha menjadi yg lebih baik (menyenangkan) aja buat dia. klo pun dia berbuat tidak menyenangkan slalu, mungkin dia sedang mengalami problem, disisi itu mungkin kita bisa bermanfaat dgn membantu persoalannya.


Quote:
Originally Posted by blodeds
wach ajib nich..
mudah2an abis baca nich thread jadi gampang dapet jodoh

Quote:
Originally Posted by pedjoeank
Gini sedikit gan (sebenernya gak jauh beda juga kok menurut ane) :
1. Kenali Gaya Lawan Bicara
2. Sesuaikan Diri Dengan Lawan Bicara
3. Beri Kesempatan Lawan Bicara
4. Jadilah Pendengar Yang Baik
5. Tunjukan Ekspresi Sewajarnya
6. Jaga Kontak Mata

itu gan, sdkit penjelasan per nomornya gak bisa ane sampein gan, bukan karena apa, tapi karena ane ngebrows lewat hp gan, susah N capek juga.
Apalagi hp jadul punya ane, bukan qwertyan gt.

Menyikapi Kematian dengan Sukacita

Kisah inspiratif ini diambil dari buku si Cacing dan kotoran Kesayangannya. Bercerita tentang seorang anak yang ditinggal mati oleh ayahnya. Dia menyikapinya dengan sukacita.

Menyikapi Kematian dengan Sukacita

Ayah saya meninggal dunia ketika saya berumur 16 tahun. Saya sangat mencintainya dan masih mencintainya sampai saat ini. Namun saya tidak pernah menangis pada upacara pemakamannya, dan tidak pernah menangis sejak saat itu. Saya tidak suka menangis. Perlu waktu bertahun-tahun bagi saya untuk memahami apa yang saya rasakan pada saat itu. Sekarang saya menggunakan pemahaman itu sebagai pedoman untuk menghadapi kematian, dengan sukacita. Inilah pemahaman saya.

Sebagai seorang anak muda, saya menyukai musik. Segala jenis musik, apakah itu klasik atau rock, jazz atau musik country. Saya suka menghabiskan sebagian besar malam hari saya di panggung-panggung konser dan klub-klub di pusat kota London, menikmati beberapa orkestra dan band-band, musisi-musisi dan penyanyi-penyanyi terbaik di dunia. London adalah suatu tempat yang bagus untuk tumbuh dewasa jika anda menyukai musik.

Ketika konsernya telah selesai, saya akan berdiri bersama orang-orang lain, bertepuk tangan dan berteriak agar konsernya dilanjutkan. Seringkali, orkestra atau band tersebut akan melanjutkan bermain musik selama beberapa menit lagi. Tetapi pada akhirnya mereka harus berhenti dan saya harus pulang ke rumah. Dan seingat saya ketika berjalan keluar dari panggung konser pada larut malam, kelihatannya hujan selalu turun di London, di dalam bentuknya yang paling menyusahkan yang dinamakan “gerimis”. Kondisinya sangat dingin, basah dan gelap, dan saya tahu bahwa saya mungkin tidak akan pernah menyaksikan orkestra yang hebat itu lagi. Namun, walaupun di dalam kondisi malam hari yang gelap gulita dan tidak menyenangkan itu, saya tidak pernah bersedih. Saya tidak pernah jatuh ke dalam keputusasaan. Sebaliknya, saya malah merasa gembira dan tergugah karena telah berkesempatan mendengarkan musik yang hebat itu. Sebuah pertunjukan yang luar biasa, sebuah pengalaman yang menakjubkan! Saya berada bertahun-tahun cahaya jauhnya dari kegelapan yang menyelimuti malam di kota London.

Itulah satu-satunya cara saya untuk menggambarkan perasaan saya ketika ayah saya meninggal. Ia adalah sebuah pertunjukan yang singkat, cuma enambelas tahun lamanya. Saya bertepuk tangan dan bersorak-sorai kegirangan meminta tambahan waktu di akhir pertunjukan. Ayah saya terus memainkan musik lebih lama sedikit dan, pada kenyataannya, itu merupakan sebuah pertunjukan yang luar biasa bagi kehidupannya. Ketika saya berjalan keluar dari krematorium di Mortlake, London Barat, setelah upacara pemakamannya, saya mengingat dengan jelas bahwa saat itu hujan gerimis dan suhu udara sangat dingin. Namun saya sama sekali tidak merasa sedih.

Saya merasa tergugah, terangkat dan tergerak begitu dalam. “Ayah, itu adalah pertunjukan yang menakjubkan. Itu adalah sebuah konser yang sangat luar biasa yang engkau perlihatkan di depan anakmu. Saya tidak akan pernah melupakan irama-irama dan nada-nada serta perasaan mendalam yang engkau berikan kepada orkestramu. Engkau adalah seorang maestro kehidupan. Betapa beruntungnya saya karena telah menjadi bagian dari konsermu”. Saya merasa tergugah, bukan bersedih. Saya merasa begitu berterima kasih, bukan berdukacita. Saya merasa telah menyaksikan salah satu kehidupan yang paling hebat di zaman saya.

Begitulah seseorang bisa meninggal dengan sukacita, dan dengan sukacita pula melihat kematian orang-orang kesayangannya. Di dalam dirinya, seseorang tahu: “Yang tercinta, sahabatku, pintu hatiku akan selamanya terbuka untukmu, tidak peduli apa pun yang pernah kamu lakukan, bahkan jika kamu meninggal”. Bahkan di dalam kematian, anda melepaskan mereka pergi. Cinta tanpa kemelekatan seperti ini adalah cinta yang membebaskan. Membebaskan orang-orang yang harus meninggalkan anda, dan membebaskan diri anda sendiri dari segala kesedihan.

Kesedihan hanyalah melihat apa yang telah terengut dari kita. Perayaan hidup adalah menyadari segala berkat yang ada pada kita dan bersyukur karenanya.